Senin, 14 Januari 2008

KELEBIHANKU



Akalku telah lebih banyak mendapat pelajaran untuk pandai dan lebih suka mengkritik orang lain. Dimana ada kebaikan orang lain, langsung tergerak mencari dimana kelemahan dan keburukannya sebelum sempat memikirkan terlebih dahulu kebaikan dan kemajuan apa yang bisa dicapai oleh diriku.


Mataku telah lebih banyak mendapat pengajaran untuk pandai dan suka melihat orang lain pada keburukannya daripada senang menatap dan mengakui kebaikan orang meski kebaikannya itu jelas-jelas dipelupuk mataku. Tetap saja mencari apa yang dibalik itu semua.


Hatiku telah lebih banyak diajar untuk condong dan lebih mudah berprasangka buruk pada orang lain biarpun kebaikannya itu sangat nyata. Selalu saja dugaan buruk muncul menyelinap mencari-cari yang tak nampak disebalik kebaikannya.


Tetapi


Aku tak cukup kekuatan untuk mampu menerima kritikan, teguran bahkan hanya sekedar nasehat dari orang lain yang menginginkan kebaikanku.


Akupun cepat naik darah dan mendidih atau paling tidak aku tidak senang ketika orang lain sekedar mengingatkan pada keburukanku walau dengan cara sehalus mungkin padahal keburukan itu benar-benar ada pada diriku.


…dan…


Jika ketika membaca tulisan ini yang anda tangkap adalah… ini tulisan tak berguna dan hanya cerita keburukan dirinya yang menulis tulisan ini maknanya… anda tak berbeda denganku… tetapi ada baiknya cobalah bertanya lagi pada diri benarkah anda tidak beda denganku…?


Sumber : Mutiara Amaly Penyejuk Jiwa Penyubur Iman Volume 37

KETAATAN KEPADA SIAPAPUN YANG MEMIMPIN

DENGAN ALQURAN DAN SUNNAH


Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : “Dari Abi Najih ‘Irbadh bin Sariyah ra. Berkata: Telah menasehati kamu oleh Rasulullah SAW akan satu nasehat yang menggentarkan hati kami dan kami menitiskan air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata: Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasehat yang terakhir sekali maka berilah pesanan kepada kami. Lalu Baginda pun bersabda : Aku berwasiat akan kamu supaya bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya dari kamu pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa Al-Rasyidin Al Mahdiyin (khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat hidayah ke jalan yang benar) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat” (HR. Abu Daud dan Tarmidzi)


Hadis di atas mengandung pesan-pesan yang sangat berharga dari Rasulullah SAW kepada umatnya, terutama bila mereka berhadapan dengan zaman yang penuh dengan kacau balaudan perselisihan. Oleh karena itu siapa yang mau selamat maka hendaklah ia mengikuti tunjuk ajar yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini, yaitu:

  1. Hendaklah ia melazimi taqwa kepada Allah dalam apa jua keadaan dan mengerjakan segalah perintah Allah dan menjauhi segala laranan-Nya.

  2. Mentaati penguasa yang menguruskan hal ehwal kaum muslimin walaupun seandainnya mereka terdiri daripada golongan hamba, selama mereka berpegang kepada Al-Quran dan sunnah Nabi SAW dan sunnah-sunnah khulafa Al-Rasyidin karena patuh kepada penguasa yang mempunyai sifat-sifat ini berarti patuh kepada Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Jika pemerintah itu merendah-rendahkan martabat Al-Quran, Al-Hadits, dan menolak hukum Allah, hendaklah menjauhi pemerintah dan hendaklah digantikan dengan yang bertaqwa.

  3. Berpegang teguh kepada sunnah Nabi SAW dan Sunnah para Khulafa Al-Rasyidin Al-Mahdiyin (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali ra) yang mana mereka telah mendapat petunjuk dari Allah SWT.

  4. Menjauhi perkara-perkara “bid’ah dholalah”(apapun faham dan amalan yang ditambahkan kepada agama Islam yang sempurna ini, padahal tiada dalil atau asal dan contoh dari Islam).


Sumber : Mutiara Amaly Penyejuk Jiwa Penyubur Iman Volume 21

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN INDONESIA

Teruntuk yang kami cintai Bapak Presiden Indonesia di Bumi Allah



PAK PRESIDEN, ORANG MISKIN PAK…

Pak Presiden, sebagai ingatan, surati ini sebagian dari sebuah surat yang pernah ditulis oleh Khalifat Ali r.a. kepada seorang Gubernur.



Takutlah kepada Allah apabila berurusan dengan masalah orang miskin yang tidak mempunyai siapapun untuk berlindung, terlantar, susah dan tidak bergairah dan yang kusut fikirannya karena menjadi mangsa kepada takdir yang berlaku. Diantara mereka ada yang tidak mempersoalkan nasib mereka dan sanggup menanggung kesengsaraan daripada meminta sedekah.

Demi Allah, peliharalah hak mereka, karena kamu bertanggung jawab untuk melindungi mereka. Peruntukkanlah sebagian daripada simpanan Baitul-Mal untuk memperbaiki kedudukan mereka, tidak kira dimana mereka berada, dekat atau jauh dari kamu. Mereka hendaklah diberikan hak yang sama rata dan adil.

Jangan biarkan kesibukan melupakan kamu akan tanggung jawab kamu terhadap mereka, karena tidak ada alasan yang akan diterima oleh Allah jika kamu membiarkan nasib mereka melarat. Jangan kamu anggap bahwa kepentingan mereka lebih sedikit daripada kepentingan kami, dan jangan menepikan mereka dalam perkiraan kamu. Awasilah orang-orang yang memandang rendah dan membiarkan kamu melupai akan nasib orang miskin. Pilihlah antara pegawai-pegawai kamu mereka yang rendah diri dan bertaqwa kepada Allah, yang akan memberi nasehat serta senantiasa mengingatkan kamu mengenai orang miskin. Sediakan peruntukan bagi mereka supaya kamu tidak sulit memberi alasan kepada Allah di hari pengadilan, karena mereka inilah orang yang patut menerima layanan baik dari kamu.

Carilah ganjaran dari Allah dengan memberikan apa yang menjadi hak mereka. Inilah tanggungjawah suci kamu untuk memenuhi kehendak orang-orang tua di kalangan mereka yang tidak mempunyai tempat pergantungan hidup dan tidak mau meminta bantuan keuangan.

Tanggung jawab seumpama itulah biasanya sukar dilakukan oleh pemerintah, tetapi ia sangat dielu-elukan oleh masyarakat yang berpandangan jauh, hanya masyarakat dan negara yang benar-benar menunaikan penjanjian mereka dengan Allah dapat memenuhi keperluan orang miskin.


Sumber : Mutiara Amaly Penyejuk Jiwa Penyubur Iman Volume 44


PENYAKIT

PENYAKIT


Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a., Wahai Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…”

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r।a। Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara।”

Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, “Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan sisksaan bagiku…”

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r।a. berkata, “Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT. Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…”


Sumber : Mutiara Amaly Penyejuk Jiwa Penyubur Iman Volume 44